Selasa, 01 Januari 2013

Korupsi dan Transendensi Diri

Akar dari sikap korup adalah sisi-sisi gelap manusia sendiri yang telah ditolak dan disangkal, sehingga kini merangsek keluar tanpa bisa dikontrol, bahkan oleh manusia itu sendiri. Untuk itu dihadapan fenomena korupsi, saya ingin mengajukan empat hal yang bisa dilakukan, supaya sebagai bangsa, kita bisa “melampaui” korupsi. Sebelum itu saya akan memetakan masalah korupsi yang menjadi tantangan utama banyak negara sekarang ini.


Gelombang Kekecewaan

Di Indonesia kita sudah cukup sadar, bahwa korupsi terus terjadi, karena sistem hukum kita amat lemah. Hukum berpihak pada siapa yang kuat secara politis dan ekonomi. Bagi yang rakyat kebanyakan, keadilan hanya berupa janji yang tak kunjung terwujud. Mereka pun jadi korban korupsi, korban ketidakadilan, dan semakin sulit hidupnya dari hari ke hari.


Partai politik pun memiliki perilaku serupa. Menjelang Pemilu mereka mengumbar janji pada rakyat. Rakyat yang mayoritas tak mampu berpikir kritis pun percaya, dan mendukung mereka. Namun setelah dipilih dan didukung oleh rakyat, partai politik bersikap korup, dan mengkhianati janji mereka pada rakyat. Kekecewaan dan ketidakpercayaan pada pemerintah yang berkuasa telah menjadi atmosfer yang melingkupi masyarakat Indonesia sekarang ini.

Sebagai bangsa kita amat sulit mengontrol hasrat berkuasa dan naluri-naluri gelap dalam diri kita. Kekuasaan meracuni motivasi banyak orang, sehingga mereka tidak lagi bekerja dan berkarya dengan tulus, namun dengan sikap korup dan tipu daya. Kenikmatan memikat kita untuk mengejarnya, walaupun dengan meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Perilaku kita tak jauh berbeda dengan perilaku hewan-hewan yang tak punya pertimbangan rasional, dan semata tunduk pada hasrat-hasrat dasariahnya.
Semua itu dibarengi dengan penyangkalan diri sosial yang terjadi di masyaraka kita. Kita merasa semua baik-baik saja. Pejabat korup datang dan kita menyambutnya dengan gegap gempita. Nasihat-nasihat moral agamis dilontarkan untuk membius kita dari realitas gelap diri dan masyarakat kita. Kita malu mengakui bahwa kita bersikap munafik di dalam berbagai bidang kehidupan.

Kita bahkan tidak mengenal diri kita lagi. Apa atau siapa itu bangsa Indonesia? Kita malu mengakui bahwa kita punya banyak sekali kesalahan di dalam menata bangsa ini. Masa lalu yang gelap kita lupakan; kita anggap tidak ada. Orang-orang berlomba untuk sekolah dan bekerja di luar negeri, karena malu tinggal di negeri ini. Bangsa kita menyangkal diri terus menerus, dan kehilangan dirinya sendiri di dalam penyangkalan tersebut.

Karena menyangkal diri, maka kita sendiri amat asing dengan diri kita sendiri. Berbagai solusi untuk menyelesaikan masalah bangsa hanya menyentuh permukaan belaka. Akar masalah tetap tak tersentuh, bahkan diabaikan atas nama stabilitas dan harmoni semu. Masalah-masalah mendesak seperti korupsi di berbagai bidang pun tak lagi terkontrol, dan skalanya semakin luas serta semakin dalam.

Kita terjebak dalam lingkaran setan dekadensi diri. Dalam banyak hal kita tidak lagi beraspirasi untuk menjadi luhur dan agung, namun justru menjadi semakin rakus dan jahat. Orang merasa bangga jika bisa kaya dalam sesaat, karena menipu atau korupsi. Kita seakan terjebak pada perlombaan untuk menjadi yang paling bejat. Dalam situasi yang amat hitam ini, apa yang mesti dilakukan?

Melampaui Korupsi

Langkah pertama adalah dengan melakukan pembenahan secara agresif pada dua lembaga publik di Indonesia, yakni partai politik dan sistem hukum. Dua lembaga publik tersebut harus dipaksa untuk mengikuti kaidah etik mereka sebagai pelayan rakyat untuk mencapai keadilan dan kemakmuran bersama. Dalam hal ini rakyat harus berani mengorganisir diri, dan memaksakan agenda tersebut ke berbagai partai politik maupun sistem hukum yang ada, mulai dari polisi, kejaksaan, pengadilan,  sampai dengan Mahkamah Agung. Maka partisipasi politik yang konsisten amat diperlukan.

Pada level yang lebih individual, menurut saya, kita perlu mengenali dan mengakui sisi-sisi gelap yang ada di dalam diri kita, sekaligus yang ada di dalam diri setiap manusia. Setidaknya ada lima sisi gelap manusia, yakni hasrat berkuasa yang bercokol di dalam dirinya, nafsu untuk meraup kenikmatan, sisi hewani yang tak tertata, kemalasan dan ketidakberpikiran manusia, dan kekosongan jiwa manusia. Dari lima sisi gelap ini, kita bisa melihat bagaimana kejahatan menorehkan jejaknya dalam sejarah manusia, dan akhirnya berubah menjadi kejahatan sistemik yang mengakar begitu dalam dan begitu luas dalam masyarakat.

Berikutnya kita harus mampu mengelola beragam sisi gelap tersebut. Tata kelola dimulai dengan pengenalan. Orang yang menyangkal bahwa dirinya memiliki kemungkinan untuk berbuat jahat justru biasanya akan menjadi pelaku kejahatan. Maka untuk bisa mengelola dirinya dengan baik, orang perlu mengenali sisi-sisi jahat yang bercokol di dalam dirinya. Kemunafikan adalah akar terdalam dari kejahatan.

Cara mengelola adalah dengan mengangkat dorongan-dorongan gelap manusia itu menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh masyarakat. Misalnya dorongan untuk berkuasa bisa diangkat menjadi dorongan untuk mencipta hal-hal yang berguna untuk masyarakat luas. Dorongan untuk mencapai kenikmatan diangkat dari dorongan untuk menunda kenikmatan-kenikmatan rendah jangka pendek menjadi kenikmatan yang bersifat jangka panjang, dan memberikan kebaikan pada orang lain. Inilah yang saya sebut sebagai transendensi diri.

Transendensi Diri

Transendensi diri juga dapat dilihat sebagai upaya manusia untuk bergerak melampaui sisi-sisi gelapnya, dan membiarkan dirinya dibimbing oleh nilai-nilai luhur kehidupan yang lahir dari konteks komunitas hidupnya. Transendensi diri setiap pribadi adalah kunci utama untuk sungguh melenyapkan korupsi sampai ke akarnya. Pelbagai upaya politik, hukum, dan ekonomi untuk melenyapkan korupsi akan sia-sia, jika rakyat di suatu negara tunduk pada sisi-sisi gelap dirinya.

Transendensi diri juga berarti membiarkan diri dibimbing oleh kesadaran dan akal budi. Dengan proses ini orang tidak lagi menjadi budak dari sisi-sisi gelapnya, dan dipermainkan oleh hasrat manusia yang memang tak pernah terpuaskan. Tentu saja untuk hidup, kita perlu hasrat. Hasrat adalah sumber energi yang mendorong kita untuk hidup dan mencipta. Namun hasrat bukanlah binatang jinak yang bisa dibiarkan tanpa kontrol

Saya menyarankan agar kita semua belajar untuk mengenali dorongan-dorongan berkuasa, berburu nikmat, gejolak sisi-sisi hewani, kemalasan berpikir, dan kekosongan jiwa kita sebagai manusia. Semua itu harus diakui dan dikenali. Setelah itu kita perlu untuk membangun niat, komitmen, serta teknik untuk menata dan melampaui sisi-sisi gelap yang bercokol di dalam diri kita, maupun diri semua manusia tersebut.

Teknik yang saya tawarkan adalah transendensi diri. Awalnya adalah pengenalan dan berakhir pada pelampauan. Hanya dengan begini korupsi bisa kita tumpas sampai ke akar-akarnya. Saya bermimpi suatu saat nanti, masyarakat dunia akan sungguh terbebas dari permasalahan korupsi. Semoga ini bukan mimpi belaka.

Rudy Karetji
Direktur Eksekutif
Komite Rakyat Anti Korupsi Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar